Senin, 12 Agustus 2013

PENGERTIAN REPRODUKSI ASEKSUAL (VEGETATIF)




A. Pengertian Reproduksi Aseksual ( Vegetatif )
Reproduksi Vegetatif adalah cara reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina). Reproduksi Vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan.

B. Reproduksi Vegetatif Alami
Reproduksi Vegetatif Alami adalah reproduksi aseksual yang terjadi tanpa campur tangan pihak lain seperti manusia. Reproduksi seperti ini terjadi dengan beberapa cara, yaitu:
  1. Dengan pembelahan sel terjadi pada tumbuhan bersel satu, misalnya alga bersel satu Chlorella, Chlamydomonas, dll.
  2. Dengan menghasilkan spora vegetatif, misalnya pada tumbuhan paku, fungi, dan ganggang
  3. Dengan rhizoma atau akar tinggal: pada irut, bunga tasbih, lengkuas, temulawak, dan kunyit.
  4. Dengan stolon atau geragih, misalnya pada pegagan (Sentela asiatica), rumput teki (Cyperus rotundus), arbei, dan lain sebagainya.
  5. Dengan umbi batang, misalnya pada kentang (Solanum tuberosum).
  6. Dengan umbi lapis, misalnya pada bawang merah (Allium cepa).
  7. Dengan umbi akar, misalnya pada ketela pohon
  8. Dengan tunas, misalnya pada bambu (Gigantochloa sp).
  9. Dengan tunas adventif, misalnya pada cocor bebek

C. Reproduksi Vegetatif Buatan
Reproduksi Vegetatif  Buatan adalah reproduksi aseksual yang terjadi karena bantuan atau karena adanya campur tangan manusia, misalnya: mencangkok, okulasi, merunduk, menyambung dan stek.


D. Keuntungan dan Kerugian Reproduksi Vegetatif Buatan
Banyak petani yang mengembangkan cara reproduksi pada tanaman buah-buah, tanaman liar, dan lain-lain dengan cara mencangkok, stek, merunduk, okulasi, mengenten dan lain-lain. Cara ini memberikan beberapa keuntungan antara lain:
  • Sifat tanaman baru akan sama persis dengan sifat tanaman induk.
  • Cepat menghasilkan buah.
Disamping itu ada pula beberapa kerugian, antara lain:
  • Tanaman yang berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem perakaran yang kurang kuat.
  • Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.
  • Bila tanaman hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat menyebabkan menurun pertumbuhannya.



 >>>>> SEKIAN DAN TERIMAKASIH <<<<<


SALAM DARI OPITER ZALUKHU.... :-)

Jumat, 21 Juni 2013

Gymnospermae (Tumbuhan Berbiji Terbuka) dan Angiospermae (Tumbuhan Berbiji Tertutup)



TUMBUHAN BERBIJI TERBUKA (GYMNOSPERMAE)

Tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) merupakan salah satu divisi dari tumbuhan berbiji (Spermatophyta). Tumbuhan berbiji terbuka memiliki biji terbuka karena tidak ditutupi atau dibungkus oleh daun buah. Akibat dari tumbuhan ini tidak mengalami pembuahan ganda.
A.      Ciri – Ciri Tumbuhan Berbiji Terbuka
1. Tumbuhan kormophyta
2. Memiliki strobilus sebagai alat reproduksi
3. Tidak mengalami pembuahan ganda
4. Biji tidak ditutupi atau dibungkus oleh daun buah.

B.       Reproduksi Tumbuhan Bebiji Terbuka
Tumbuhan berbiji terbuka memiliki strobilus jantan dan betina dalam satu pohon. Strobilus jantan terletak di ujung tangkai. Sedangkan strobilus betina terletak di ketiak batang. Tumbuhan ini berkembang biak dengan cara seksual. Sel sperma memalui bantuan angina terbang menuju strobilus betina. Disini terjadilah proses fertilisasi dan akhirnya terbentuk zygot yang tumbuh menjadi biji. Biji ini dilengkapi sayap sehingga apabila telah matang bisa jatuh di tempat yang jauh dari induknya.

C.      Klasifikasi Tumbuhan Berbiji Terbuka
Tumbuhan berbiji terbuka dibagi menjadi empat kelas yaitu :
1.      Cycadophyta
Cycadophyta merupakan tumbuhan kayu yang sedikit cabang. Memiliki daun yang besar sepeti daun palem. Memiliki strobilus jantan yang terdiri dari banyak sporofil sisik mengandung banyak mikrosporangium. Strobilus betina mengandung sporofil sisik dengan dua bakal biji. Contoh : Pakis haji (Cycas rumphii).
2.      Pinophyta
Merupakan gymnospermae yang sering ditemukan dalam kehidupan sekitar kita. Memiliki daun berbentuk jarum dan strobilus kerucut. Pinophyta digolongkan menjadi 5 ordo, yaitu.
a. Ordo Texales, Contoh : Taxus baccata, Amentotaxus.
b. Ordo Arauciriales, Contoh : Damar (Agathis alba).
c. Ordo Podocarpales, Contoh : Podocarpus imbricate.
d. Ordo Pinales, Contoh : Pinus merkusii.
e. Ordo Cupressales, Contoh : Sequoia gigantea, Thuya gigantea.
3.      Ginkgophyta
Merupakan daun berbentuk kipas. Meranggas bila musim kemarau. Sebagian besar telah punah. Contoh : Ginkgo biloba.
4.      Gnetophyta
Merupakan tumbuhan kayu yang bercabang banyak. Memiliki daun tunggal. Dibagi menjadi tiga ordo. Yaitu:
a. Ordo Ephedrales, Contoh : Ephedra altisima.
b. Ordo Gnetales, Contoh : Gnetum gnemon (melinjo).
c. Ordo Welwitschiales, Contoh : Welwitschia mirabilis.

D.      Peranan Tumbuhan Berbiji Terbuka

1. Bahan Bangunan. Contoh : Cemara, pinus.
2. Bahan baku ukiran. Contoh : Taxus baccata.
3. Bahan baku kertas. Contoh : Cemara.
4. Bahan makanan. Contoh : Melinjo
5. Penghasil getah. Contoh : Damar, Pinus merkusii.


TUMBUHAN BERBIJI TERTUTUP (ANGIOSPERMAE)
Angiospermae merupakan golongan tumbuhan yang memiliki tingkat perkembangan lebih tinggi dibandingkan golongan tumbuhan lain.

A. Ciri - Ciri Dan Struktur Angiospermae

·         Memiliki bakal biji yang tidak tampak karena terbungkus dalam suatu badan yang berasal dari daun buah. Badan itu disebut bakal buah (ovary)
·         Alat reproduksi angiospermae adalah bunga sesungguhnya dengan bermacam-macam bentuk dan susunan, kebanyakan bunga bersifat hemafrodit karena memiliki alat kelamin jantan dan betina.
·         Daun angiospermae kebanyakan pipih dan lebar. Ada berupa daun tunggal dan ada juga berupa daun majemuk.
·         Batang dan akar angiospermae ada yang memiliki cambium dan ada yang tidak memiliki cambium. Sedangkan akarnya dapat berupa akar tunggang atau serabut.
·         Jenis angiospermae sangat bervariasi. Ada yang hidup sebagai semak, perdu, atau berupa pohon besar. Selain itu beberapa jenis angiospermae tumbuh kecil, hidup merayap dipermukaan tanah.

B. Daur Hidup Angiospermae

Gametofit betina terbentuk dari hasil pembelahan inti kandung lembaga primer di dalam bakal biji. Inti kandung lembaga primer membelah tiga kali berturut-turut sehingga terbentuklah 8 inti antara lain:

·         Tiga inti daerah mikropil.
·         Tiga inti daerah kalaza.
·         Dua inti bergerak di bagian tengah kandung lembaga yang kemudian melebur membentuk inti kandung lembaga sekunder.

Gametofit jantan dibentuk di dalam kantong sari. Di dalam kantong sari, mikrospora mengalami pebelahan inti menjadi inti vegetative, inti generative, dan sel anteridium.  Pada angiospermae proses pembentukan lembaga atau embrio dapat terjadi melalui proses pembuahan dan tanpa proses pembuahan.
Pembentukan lembaga melalui proses pembuahan. Selisih waktu antara penyerbukan dan pembuahan relative pendek. Pada saat serbuk sari jatuh di kepala putik segera terbentuk buluh serbuk sari. Biasanya pada ujung buluh serbuk sari terdapat inti vegetative, yang bertindak sebagai penunjuk jalan bagi inti generative menuju bakal biji. Sel generative membelah menjadi 2 sel sperma. Selanjutnya buluh serbuk sari terus tumbuh memanjang menembus jaringan putik hingga mencapai bakal biji. Dalam buluh tersebut, kedua inti sperma bergerak mengikuti inti vegetative untuk melangsngkan proses pembuahan.
Sesampai di dalam bakal biji, inti sperma I (n) membuahi sel telur (n) sehingga terbentuk zigot (2n) dan inti sperma II (n) membuahi inti kandung lembaga sekunder membentuk endosperma (3n) karena pembuahan tersebut terjadi sebanyak dua kali maka disebut pembuahan ganda.
Berdasarkan cara buluh serbuk mencapai kandung lembaga di dalam bakal biji maka pembuahan dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
·         Porogami: terjadi apabila buluh serbuk sari masuk melalui mikropil
·         Aporogami: terjadi apabila buluh serbuk sari masuk tidak melalui mikropil.





C. Pembentukan Lembaga Tanpa Proses Pembuahan

Pembentukan lembaga tanpa proses pembuahan disebut apomiksis. Berikut ini beberapa tipe apomiksis antara lain:
·         Partenogenesis: terbentuknya lembaga dari sel telur yang tidak dibuahi.
·         Apogami: terbentuknya lembaga dari bagian-bagian lain di dalam kandung lembaga.
·         Embrio Adventif: terbentuknya lembaga dari salah satu sel sporofit.

Setelah terjadi pembentukan lembaga di dalam biji baik melalui proses pembuahan atau tidak sebuah generasi baru siap tumbuh di tempat yang sesuai. Selanjutnya akan berkecambah dan tumbuh menjadi tumbuhan dewasa.


D.      Klasifikasi Angiospermae

Berdasarkan jumlah daun kotiledon yang dimilikinya, angiospermae dapat dibedakan menjadi 2 kelas yaitu:
·         Kelas Monocotyledonae: memiliki biji dengan lembaga yang hanya memiliki satu daun lembaga.
·         Kelas Dicotyledonae: memiliki biji dengan lembaga yang memiliki dua daun lembaga.

E. Manfaat Angiospermae
Beberapa manfaat angiospermae dalam kehidupan manusia antara lain:
·         Bahan pangan sumber karbohidrat, contohnya Oryza sativa.
·         Bahan pangan sumber protein, contohnya Phaseolus radiates.
·         Bahan pangan sumber lemak, contohnya Cocos nucifera.
·         Bahan pangan (sayuran) sumber vitamin dan mineral, Solanum lycopersicum.
·         Bahan pangan (buah-buahan) sumber vitamin dan mineral, contohnya, Carica papaja.
·         Bahan sandang, contohnya Gossipium sp.
·         Bahan pemberi rasa nikmat pada makanan, minuman atau lainnya. Contohnya, Coffea sp.
·         Bahan obat-obatan, contohya, Cinchona succirubra.
·         Bahan bangunan, contohnya, Tectona grandis.